merdekaku — Satu unit pesawat CN235 akhirnya kembali mengudara. Bukan pesawat baru. Tapi pesawat lama yang sebelumnya tak layak terbang.

Nomor ekor A-2305. Di atas kertas, jenis CN235-100M.

Setelah beberapa waktu mangkrak, pesawat ini kini berstatus aktif lagi. PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang menangani proses restorasi. Lengkap dengan pembaruan di banyak bagian.

Bukan cuma ganti panel. Kokpitnya sekarang digital. Flight Management System (FMS)-nya juga lebih mutakhir. Modern, kata teknisinya.

Restorasi ini jadi bagian dari upaya memperkuat operasi TNI AU. Khususnya di wilayah timur. Papua, utamanya.

Komandan Komando Pemeliharaan Materiel TNI AU, Marsekal Muda TNI Suryanto, menyebut kembalinya CN235 penting. Armada di timur terbatas. Mobilitas logistik terganggu kalau satu pesawat saja tidak siap.

“Menurutnya, kebutuhan itu berkaitan dengan dukungan terhadap latihan serta pelaksanaan operasi di wilayah Papua.” Ia menambahkan, peningkatan avionik dan keselamatan juga jadi pertimbangan utama.

Proses pemulihan bukan sehari-dua hari. Butuh waktu. Struktur pesawat di perpanjang. Sistem kabel ulang. Avionik di perbaiki. Semua di validasi ketat.

Hasil akhirnya? Pesawat lulus uji. Dapat otorisasi terbang dari IDAA—Indonesia Defense Airworthiness Authority—tanggal 6 Januari 2026. Setelah itu, diserahkan ke TNI AU.

Dulu satu paragraf penjabaran, sekarang jadi potongan pendek, padat, dan diselingi informasi yang seolah di sampaikan di sela percakapan atau laporan langsung.

Menurut PTDI, pesawat ini tak hanya siap untuk operasi militer. Tapi juga bisa di turunkan dalam misi kemanusiaan. Penanggulangan bencana. Terutama di wilayah dengan kondisi medan berat.

Mereka menyebutnya pesawat multirole. Bisa logistik. Bisa evakuasi.

Restorasi CN235 ini, bagi PTDI, bukan sekadar proyek teknis. Ada pesan soal komitmen. Bahwa industri dalam negeri masih sanggup menjaga kesiapan alutsista. Untuk pertahanan. Untuk kepentingan sipil juga.