merdekaku.com – Ramadhan sering di anggap waktu yang pas untuk “turun berat badan”. Kenyataannya? Tidak selalu begitu. Ada yang justru naik beberapa kilo. Ada juga yang turun drastis lalu kembali seperti semula setelah Lebaran. Polanya berulang, hampir setiap tahun.

Puasa memang mengubah ritme tubuh. Jam makan bergeser. Waktu tidur berkurang. Aktivitas siang hari terasa lebih lambat, kadang lebih hemat energi. Semua perubahan itu, sadar atau tidak, ikut memengaruhi angka di timbangan.

Soal makan, misalnya. Sahur dan berbuka jadi dua momen krusial. Kalau asal pilih menu—yang penting kenyang—biasanya efeknya terasa menjelang akhir bulan. Karbohidrat kompleks, protein, serat, dan cairan yang cukup sering di sebut-sebut sebagai kombinasi aman. Bukan tanpa alasan. Menu seperti itu membantu energi bertahan lebih lama dan membuat rasa lapar lebih terkendali. Tidak meledak di sore hari.

Berbuka juga sering jadi jebakan. Seharian menahan lapar, meja penuh gorengan dan minuman manis, rasanya sulit menolak. Wajar. Tapi di situ letak masalahnya. Makanan tinggi gula dan lemak mudah sekali membuat asupan kalori melonjak, tanpa terasa. Sekali dua kali mungkin tidak signifikan. Tapi kalau tiap hari? Ceritanya bisa berbeda.

Bukan berarti harus serba kaku. Bukan itu poinnya. Yang lebih penting porsi terukur. Ambil secukupnya, beri jeda, lalu rasakan apakah benar masih lapar atau sekadar ingin. Perbedaan kecil, tapi dampaknya besar.

Aktivitas fisik juga sering terlupakan. Banyak yang memilih “hemat gerak” selama puasa. Padahal tubuh tetap butuh bergerak. Tidak perlu olahraga berat. Jalan kaki menjelang berbuka, peregangan ringan setelah Tarawih, atau sekadar menjaga langkah tetap aktif sudah membantu metabolisme tetap bekerja. Diam terus justru membuat tubuh terasa makin berat.

Soal tidur tak kalah penting. Ramadhan kerap memotong jam istirahat. Sahur lebih awal, malam lebih panjang karena ibadah. Kurang tidur bisa mengacaukan hormon yang mengatur rasa lapar. Akibatnya, keinginan makan meningkat, terutama makanan manis atau tinggi kalori. Jadi bukan cuma soal lelah—ada mekanisme tubuh yang terlibat.

Menjaga berat badan stabil selama Ramadhan sebenarnya bukan perkara rumit, tapi juga bukan otomatis terjadi. Perlu sadar pada pilihan kecil setiap hari: apa yang di makan, seberapa banyak, kapan bergerak, dan kapan berhenti. Puasa tetap lancar, tubuh tetap bugar. Itu yang di cari.

Dan mungkin yang paling penting, jangan menunggu angka timbangan berubah drastis baru panik. Ramadhan berlangsung sekitar 30 hari. Cukup lama untuk membentuk kebiasaan baru. Cukup lama juga untuk memperbaiki pola lama yang kurang tepat. Tinggal bagaimana menjalaninya.