merdekaku – Berkas tebal terpampang di meja rapat; angka megahertz berderet seperti sandi morse. Itulah arena baru Kemkomdigi—memilah frekuensi, memilih operator, memastikan sinyal kencang tak cuma berputar di kota besar.
Kenapa repot? Karena masih banyak desa yang tak kenal bar loading penuh. Anak sekolah menunggu video pelajaran berhenti “buffering”, pedagang online mengirim foto barang lewat pesan tertunda. Pemerintah sadar: tanpa koneksi layak, jargon ekonomi digital hanya jadi poster.
Maka di gelarlah seleksi spektrum. Frekuensi bukan kue tanpa batas; salah tata letak, interferensi siap menghantam. Kemkomdigi mewajibkan calon pemenang memaparkan rencana menara di punggung bukit, bukan sekadar upgrade BTS mal perkotaan. “Prioritas pinggiran,” kata pejabat, menepuk peta menunjuk pulau terluar.
Operator yang lolos nanti harus menandatangani komitmen kualitas—latensi rendah, kecepatan stabil, plus pemeriksaan rutin oleh regulator. Spektrum bisa di cabut jika janji tinggal spanduk. Pengawasan diagendakan triwulan; audit lapangan bukan sekadar lulus di atas kertas.
Langkah ini juga menyelipkan misi ekonomi: UMKM di kecamatan terpencil bisa menjual kopi langsung ke pembeli kota; puskesmas mengevakuasi data rekam medis ke cloud tanpa lemot; konten kreator kampung mengunggah video tanpa menunggu tengah malam.
Kerja besar tak bisa solo. Pemerintah menggandeng vendor perangkat, pemerintah daerah, sampai koperasi desa untuk urusan lahan menara. Tujuannya satu: sinyal 4G—atau nanti 5G—merambat rata, menutup celah digital antarwilayah.
Bila seleksi berjalan sesuai rel, tahun depan peta cakupan jaringan Indonesia bakal lebih hijau. Dan ketika BTS baru menyala di ujung barat dan timur, bar loading di layar warga akan berkurang—akhirnya.
